Sistem Pelayanan Kesehatan Norwegia

PENULIS : Nilna R. Isna

PENDAHULUAN

System kesehatan dijelaskan berdasarkansystem dan komponen-komponen yang berpengaruh dan membentuk system kesehatan itu sendiri. Sebagai tambahan akan disampaikan permasalahan kesehatan yang sekarang sedang terjadi beserta perlunya suatu hubungan yang terintegrasi antara system kesehatan di daerah yang sesuai visi dan misi system kesehatn nasional.

Berbagai perubahan dan tantangan strategis yang mendasar seperti globalisasi, demokratisasi, desentralisasi, krisis multidimensi, serta pemahaman kesehatan sebagai hak asasi dan investasi mendorong terjadinya revisi terhadap system kesehatan yang yang selama inni menjadi dasar pembangunankesehatan.

Secara global, yang terjadi di dunia selama ini adalah adanya variasi outcomes antara poetnsi system dan performance sebenarnya di berbagai Negara berkembang, padahal memiliki sumber dan kesempatan yang relative sama. Hal ini sangat terkait dengan keefektifan dan kemampuan system yang digunakan dalam memberdayakan semua sumber daya untuk menghasilkan outcomes yang diingginkan.

PEMBAHASAN

2.1 Welfare System di Norwegia

Bersama dengan negara-negara Skandinavia lainnya, Denmark dan Swedia, Norwegia adalah salah satu negara yang masih percaya pada mekanisme negara kesejahteraan (welfare state). Selama ini negara-negara tersebut selalu berada dalam peringkat atas HDI. Peringkat tinggi yang dicapai negara-negara Skandinavia tersebut sebenarnya tak terlalu mengherankan apabila dilihat dari aspek kemampuan ekonomi negara dan mapannya sistem pengelolaan jaminan sosial lewat model welfare state.

Asumsi yang mendasar dari model ini adalah bahwa pasar kapitalis memiliki logika yang sekedar mencari keuntungan ekonomi. Implikasinya pasar dianggap tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat sosial. Sementara di sisi lain negara dianggap ada dan didisain untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. Dengan begitu maka negara menjadi institusi utama yang mesti berperan dalam menjalankan pelayanan publik.

Dengan sistem ini maka dimaksudkan bahwa negara memiliki tujuan untuk memastikan bahwa seluruh warga negara mendapatkan keamanan ekonomi dan keamanan sosial (social and economic safety). Negara juga menjamin bahwa semua warga negara berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pelayanan kesehatan, tanpa memperhatikan kelas sosial atau pendapatan ekonominya (Ellingson, Mac Donald-2000).

Norwegia mulai menerapkan sistem kesejahteraan ini pada tahun 1909 dalam sektor kesehatan, dimana warga negara yang memiliki pendapatan rendah akan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis ketika mereka sakit. Sistem ini dimapankan pada periode pasca Perang Dunia II di Norwegia, dan juga di berbagai negara Eropa, sebagai respon dari krisis kapitalisme pada tahun 1930-an. Pasar kapitalisme dianggap bermasalah dalam mewujudkan kesejahteraan, sehingga intervensi negara dalam ekonomi dianggap penting.

2.2 Jaminan Sosial oleh Negara di Norwegia

Meskipun arus ideologi neoliberal juga menerpa kencang belahan Eropa Utara, akan tetapi pembuat kebijakan dan publik di Norwegia pada umumnya masih meyakini bahwa negara mesti menjadi agen utama yang mendistribusikan kesejahteraan kepada warganya.

Di sektor kesehatan negara berperan dominan, meskipun pelayanan privat juga mulai bermunculan. Rata-rata pengeluaran negara per penduduk dalam sektor kesehatan di Norwegia adalah yang terbesar di Eropa. Pelayanan di rumah sakit dijalankan secara gratis, meski dalam level yang rendah orang mesti membayar biaya administrasi. Namun begitu, obat tetap menjadi tanggung jawab pasien. Hanya saja ketika harga obat dirasa mahal pasien bisa meminta dokter untuk menuliskan “resep biru”. Dengan cara ini maka biaya obat yang mahal sebagian besar akan ditanggung negara.

Terobosan dalam pelayanan kesehatan yang paling mutakhir adalah fastelegeorningen. Ini adalah kebijakan negara yang mengatur bahwa setiap penduduk memiliki hak untuk mempunyai atau mendapat pelayanan dokter secara pribadi. Tiap orang “memiliki” dokter sendiri. Dengan begitu maka tiap orang mendapatkan kesempatan untuk mengakses pelayanan kesehatan secara cepat tanpa harus mengantri di rumah sakit.

2.3 Sistem kesehatan umum di Norwegia

 Isu kesejahteraan di Norwegia muncul pada tahun 1900-an, diikuti dengan ekpansi besar-besaran di bidang sistem kesehatan umum dan perawatan. Pada tahun 1870, tiap tenaga medis melayani 4.000 pasien, dan angka ini mengalami penurunan pada tahun 1995 menjadi 285 pasien per tenaga medis.

Layanan kesehatan umum didanai oleh pajak dan dirancang untuk dapat diakses oleh semua penduduk tanpa memandang status sosial. Dengan sekitar 220.000 pegawai, sektor kesehatan umum merupakan salah satu sektor terbesar bagi masyarakat Norwegia.

Sistem kesehatan umum berada di bawah pengawasan Menteri Kesehatan dan Sosial, yang bertanggung jawab dalam merencanakan dan memonitor kebijakan kesehatan nasional. Tanggung jawab tentang kondisi pelayanan didesentralisasikan ke tingkat kota praja dan regional. Kota praja bertanggung jawab memberikan layanan kesehatan utama seperti klinik dokter umum, sementara pemerintah daerah dan lima bagian kesehatan lainnya menyediakan layanan medis spesialis, seperti rumah sakit. Sejumlah rumah sakit swasta dan layanan kesehatan juga telah didirikan sebagai tambahan untuk fasilitas umum.

Antrian di rumah sakit dan jumlah lanjut usia merupakan dua tantangan terbesar bagi kebijakan kesehatan Norwegia. Persentase para lanjut usia meningkat tajam pada tahun 1970, sehingga menciptakan kebutuhan akan layanan pengobatan, rehabilitasi dan perawatan.

Fasilitas rumah sakit umum yang pertama di Norwegia didirikan pada sekitar tahun 1700-an, dengan munculnya rumah sakit khusus dan ruang perawatan pada akhir tahun 1800-an. Ketika mesin x-ray dan peralatan anestesi moderen mulai bermunculan setelah tahun 1900, rumah sakit moderen memperoleh momentum baru. Sejak tahun 1945, pengembangan layanan kesehatan umum telah mengikuti tren internasional dalam hal penggunaan antibiotik dan jenis pengobatan lainnya, serta perbaikan berkesinambungan di bidang teknologi medis.

Para tenaga medis telah menjadi tulang punggung layanan kesehatan umum Norwegia, dan seringkali membuka jalan bagi reformasi kesehatan.

2.4 Skema Asuransi Nasional Norwegia

Semua warga negara Norwegia dan individu yang berkerja di Norwegia secara otomatis memenuhi syarat menjadi anggota Skema Asuransi Nasional, yang merupakan skema asuransi pemerintah yang memberikan dana pensiun (misalnya untuk usia lanjut, penyandang cacat) serta manfaat yang berhubungan dengan kecelakaan kerja, kecelakaan umum dan penyakit, kehamilan, kelahiran, orang tua tunggal dan pemakaman. Bersama dengan skema asuransi untuk uang saku keluarga dan manfaat uang tunai bagi orang tua dengan anak kecil (kontantstøtte), Skema Asuransi Nasional terdiri dari skema asuransi umum yang paling penting di Norwegia.

Pada akhir tahun 1999, sekitar 1,1 juta orang mendapatkan dana dari asuransi nasional sebagai sumber pendapatan, termasuk sekitar 900.000 usia pensiun. Pada tahun 1999, total pengeluaran pensiun mencapai 162 juta NOK, atau sama dengan 13,6% GDP dan sekitar 34,3% anggaran nasional. Skema Asuransi Nasional didanai oleh biaya keanggotaan dari para pegawai, wiraswasta dan pihak terasuransi lainnya, kontribusi perusahaan dan dana pemerintah.

Layanan umum pertama kali muncul pada tahun 1700. Sebelumnya, keluarga, gereja atau individu bertanggung jawab merawat orang miskin, orang sakit atau para lanjut usia. Perluasan layanan sosial dan asuransi nasional berhubungan erat dengan proses industrialisasi. Industri membawa penyakit baru, memicu tingkat mobilitias yang lebih tinggi sehingga melemahkan ikatan keluarga. Dan pada saat yang bersamaan memberikan dasar ekonomi untuk reformasi sosial. Asuransi Kecelakaan Norwegia untuk Pekerja Pabrik tahun 1895 secara perlahan-lahan diperbaiki untuk mencakup profesi lainnya, diikuti dengan pengenalan tunjangan saat sakit, tunjangan hari tua (1936), tunjangan pengangguran (1939), tunjangan cacat tubuh (1960) dan tunjangan bagi janda dan orang tua tunggal wanita (1964). Pada tahun 1967, tunjangan sosial yang diperkenalkan sebelum Perang Dunia II digabungkan dengan Skema Asuransi Nasional. Pembayaran dari skema tersebut ditentukan oleh jumlah poin pensiun yang diraih tiap individu.

Norwegia merupakan negara makmur dan salah satu terkaya di dunia. Pada tahun 2003, untuk tiga tahun berturut-turut, Norwegia menduduki peringkat teratas kondisi kehidupan nasional menurut UNDP Human Development Index.

Rata-rata usia kehidupan di Norwegia adalah 78,7 tahun (2001). Secara umum masyarakat memiliki kondisi kesehatan yang sangat baik dengan angka kematian balita yang sangat rendah. Hampir seluruh masyarakat menyelesaikan pendidikan sekolah menengah dan memiliki kecakapan menulis serta membaca. Angka kemiskinan relatif rendah dibanding dengan negara OECD lainnya dan kondisi kemiskinan yang sangat memprihatinkan tidak dijumpai di Norwegia.

Angka produksi domestik kotor (GDP) per kapita sangat tinggi dengan tingkat kesejahteraan yang merata. Disamping itu, kesetaraan jender juga diakui pada seluruh lapisan masyarakat. Untuk menjaga kesejahteraan masyarakatnya, Norwegia telah menerapkan layanan kesehatan umum yang didanai oleh pajak dan skema asuransi nasional, dan berlaku untuk semua warga negara dan penduduk.

Baik konsumsi publik dan pribadi meningkat tajam sejak tahun 1900, dan tingkat kesejahteraan pada beberapa dekade terakhir dikarenakan penemuan dan eksploitasi minyak lepas pantai dan gas alam di Laut Utara. Dibawah tekanan modernisasi dan urbanisasi yang meningkat, pola kehidupan tradisional yang stabil telah digantikan dengan mobilitas yang tinggi, dimana orang lebih banyak bergerak dan berganti pekerjaan.

2.5 Model Pelayanan Kesehatan Jiwa Di Norwegia

Norwegia sebagai salah satu negara skandinavia dengan luas wilayah 3,8 juta km2 yang dihuni oleh 4,6 juta penduduk merupakan salah satu negara makmur di Eropa. Penghasilan utama negeri ini dari minyak bumi yang menyumbang devisa paling besar bagi penyelenggaraan negara. Diikuti hasil tambang, hasil laut, hasil hutan dan beberapa sumber pemasukan lainnya, membuat negara ini terkenal sebagai neraga makmur dan tidak mempunyai hutang luar negeri.

Sebagai negara kaya dan demokratis, rakyat mendapat perlindungan yang sangat baik dari negara, sehingga mereka dapat hidup makmur dan bisa dikatakan berlebihan. Perlindungan yang diberikan negara juga meliputi pelayanan kesehatan gratis dan berkualitas. Salah satunya adalah hak penduduk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa yang berkualitas dan manusiawi.

Pelayanan kesehatan jiwa di Norwegia dirancang sedimikian rupa, sehingga para penderita gangguan jiwa (gila) diperlakukan secara manusiawi dengan menjunjung tinggi hak sebagai manusia dan sebagai warga negara yang sama dengan warga negara lainnya. Norwegia memiliki banyak pelyanan kesehatan jiwa yang tersebar di seluruh pelosok negeri dan dengan mudah dapat dijangkau oleh penduduk.

Pada awalnya Norwegia memberlakukan sistem pelayanan kesehatan jiwa yang sentralistik, dimana pasien dengan sakit jiwa semuanya dirawat di rumah sakit jiwa. Keadaan ini telah membuat pelayanan kesehatan jiwa menjadi sangat buruk dan tidak manusiawi. Karena rumah sakit tidak punya cukup fasilitas untuk menampung sekian banyak pasien. Sehingga pelayanan yang diberikan pun tidak lagi menyentuh asas kemanusiaan.

Setelah beberapa kali studi yang dilakukan departemen kesehatan baik di dalam dan luar negeri, akhirnya Norwegia melakukan perubahan menyeluruh dalam sistem pelayanan kesehatan jiwa, dimana rumah sakit tidak lagi menjadi pusat pelayanan bagi pasien jiwa, tapi rumah hanya akan melayani pasien jiwa akut yang beresiko terhadap keselamatan dirinya dan orang lain.

Pemberlakuan sistem ini dilanjutkan dengan pengembalian pasien yang menumpuk di rumah sakit jiwa ke masyarakat, sehingga mereka dapat hidup normal dalam masyarakat, tidak lagi terkurung di rumah sakit ibarat seorang tawanan yang berada dalam terali besi yang mendapatkan pengawasan ketat ibarat seorang penjahat dari pemberi pelayanan kesehatan.

Pada tahap awal, keadaan ini sempat mebuat gempar para keluarga pasien karena mereka tidak mampu dan tidak mempunyai pengetahuan tentang bagaimana merawat pasien jiwa di keluarga, sehingga hal ini menimbulkan protes dari masyarakata dan politisi terhadap kebijakan yang diambil oleh departemen kesehatan.

Protes ini merupakan titik awal dari perubahan sistem pelayanan yang berbasis rumah sakit (sentralisasi) kearah berbasis masyarakat (desentralisasi), dimana penderita gangguan jiwa dengan mudah mendapat pelayanan kesehatan jiwa di masyarkat. Kemudian berdirilah berbagai fasilitas kesehatan jiwa didalam masyarakat, seperti pusat kesehatan jiwa masyarakat, pusat kesehatan jiwa keluarga, rumah aktivitas bagi penderita  gangguan jiwa, pelayanan kesehatan jiwa di rumah dan pusat kesehatan jiwa di sekolah. Untuk mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan jiwa disetiap pusat pelayanan kesehatan jiwa, pemerintah Norwegia menempatkan tenaga-tenaga kesehatan yang berkualitas, seperti adanya dokter keluarga sebagai pusat rujukan pertama masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa. Kemudian pemerintah juga menempatkan banyak perawat jiwa pada setiap unit pelayanan kesehatan yang dibantu oleh para pekerja sosial yang telah dilatih tentang penanganan pasien jiwa, serta menempatkan spesialis jiwa untuk penanganan tindak lanjut sebelum pasien di rujuk ke rumah sakit jiwa atupun ketika pasien kembali dari rumah sakit jiwa ke masyarakat. Pelayanan spesialis ini akan diperoleh pasien jiwa di pusat kesehatan jiwa mayarakat.

Untuk lebih jelasnya mari kita melihat jalur rujukan penderita gangguan jiwa mulai dari tingkat yang terkecil hingga ke pasien dimasukkan ke rumah sakit jiiiwa. Bila masyarakat mengalami masalah dengan gangguan jiwa, maka dengan cepat mereka dapat mengakses pelayanan kesehatan di dokter keluarga (fastlegen). Disini sang dokter akan menentukan seberapa berat pasien mengalami masalah kesehatan jiwa. Bila pasien berada dalam keadaan tenang, tapi memerlukan konsultasi spesialisasi, maka mereka akan dirujuk ke pusat kesehatan jiwa masyarakat yang menyediakan pelayanan sepesialisasi. Bila pasien dalam keadaan gawat, maka pasien dapat di rujuk ke rumah sakit jiwa. Di rumah sakit jiwa, pasien tidak langsung dimasukkan ke ruang akut, tapi mereka akan dipantau selama 2-3 hari di ruang emergensi, dan bilan dalam waktu tersebut pasien menjadi tenang, maka pasien akan dikembalikan ke keluarga dengan membawa surat rujukan ke pusat kesehatan jiwa masyarakat. Tapi bila pasien dalam waktu pemantauan menunjukkan gejala berat yang dapat mengganggu keselamatan dirinya dan orang lain, baru dia bisa dirawat di ruang akut rumah sakit jiwa.

Begitu juga halnya bila pasien anak-anak, dokter keluarga akan menentukan kemana si pasien akan dirujuk, apakah cukup hanya berkonsultasi ke pusat kesehatan jiwa keluarga atau ke pusat kesehatan jiwa masyarakat bahkan bila keadaan sangat buruk akan di rujuk ke rumah sakit jiwa. Anak dengan usia sekolah juga akan mendapat perhatian khusus oleh pusat kesehatan jiwa sekola, sehingga bila terjadi beberapa kelainan yang serius akan cepat dilaporkanke keluarga untuk mendapat penanganan lebih lanjut dari instansi pelayanan kesehatan jiwa terkait.

Dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan jiwa ini, terjadi kerja sama yang erat antar setiap instansi pelayanan yang ada. Sehingga setiap pasien jiwa yang ada dalam masyarakat akan selalu terdeteksi perkembangannya oleh pusat pelayanan kesehatan jiwa yang ada.

Tidak hanya itu, pasien jiwa yang hidup dalam keluarga akan mendapat pemantauan dari pekerja sosial yang konsen terhadap permasalahan kesehatan jiwa. Pasien jiwa juga dengan mudah dapat berkunjung ke rumah singgah yang menjadi pusat aktivitas penderita  gangguan jiwa atau menelpon pekerja sosial, bila dia merasa membutuhkan seseorang untuk berbicara dan menemani mereka. Karena sangat penting bagi pasien jiwa bila mengalami perasaan tidak menentu, ada seseorang yang menemaninya untuk membicarakan permasalahan dan bila memungkinkan mencari solusi pemecahan masalah.

Pasien jiwa juga setiap saat bisa berkunjung ke rumah singgah, ke pusat kesehatan masyarakat atau pusat kesehatan keluarga bila mereka membutuhkan bantuan. Semua pusat pelayanan tersebut juga menyediakan berbagai aktivitas kepada pasien jiwa yang dibagi dalam kelompok-kelompok sesuai dengan minat bakat mereka, untuk menumbuhkan perasaan bahwa mereka masih dibutuhkan dalam kehidupannya. Kegiatan-kegiatan itu bisa berupa pertukangan, seni gambar, seni drama, seni musik, pembuatan kue dan makanan, kegiatan olah raga dan banyak lainnya. Kelompok ini sangat membantu pasien untuk meningkatkan kepercayaan diri dan penting untuk sosialisasi.

Bagi pasien-pasien yang akut dan membutuhkan perawatan seumur hidup, pemerintah menyediakan tempat tinggal seperti apartemen yang disewa untuk ditinggali oleh penderita  gangguan jiwa lengkap dengan petugas sosial yang siap memberi bantuan bagi mereka. Mereka bisa hidup layaknya masyarakat pada umumnya, namun bila mereka membutuhkan bantuan maka pekerja sosial akan memberikan bantuan untuk mengatasi permasalahan yang di alami.

Lebih jauh lagi bagi penderita gangguan jiwa yang telah kehilangan pekerjaan karena gangguan jiwa yang dialaminya, maka ketika keadaannya membaik, pusat pelayanan kesehatan jiwa akan berkerja sama dengan departemen tenaga kerja untuk mencari perusahaan-perusahaan kecil yang mau menampung mereka untuk bekerja. Departemen tenaga kerja juga akan memberi pelatihan untuk meningkatkan kemampuan penderita  sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan tersebut.

Untuk meningkatkan kemampuan pasien jiwa agar dapat kembali ke dunia kerja, pemerintah membangun pabrik, seperti pabrik makanan, pertanian dan lainya yang semua pekerjanya dalah para bekas penderita gangguan jiwa. Mereka akan digaji sebagaimana layaknya pekerja pada umumnya, karena mereka punya hak yang sama. Setelah mereka benar-benar mampu untuk bekerja, maka mereka akan dicarikan pekerjaan diluar sesuai dengan kemampuan yang telah dimilikinya.

Begitulah bentuk pelanyanan kesehatan jiwa yang diberikan pemerintah Norwegia kepada setiap penderita gangguan jiwa, sehingga kita tidak pernah menjumpai ada penderita gangguan jiwa yang berkeliaran di jalanan tanpa ada pelayanan yang layak, kita sangat jarang melihat penderita  ganggun jiwa yang bunuh diri, tidak ada yang dipasung dan tidak ada juga yang menjadi beban berlebihan bagi keluarga. Pemerintah selaku tempat masyarakat berlindung dan memperoleh pelayanan telah menjalankan fungsinya dengan baik untuk melindungi setiap masyarakat, sehingga mereka akan mendapat hak-hak mereka secara adil.

2.6  Struktur Organisasi

Fungsi utama struktur organisasi system kesehatn bertumpu pada Menteri Urusan Sosial,hal ini termasuk membawahi direktorat kesehtan dan asuransi nasional. Fungsi kesehatn lainya dilengkapi oleh kantor pemerintah yang berfungsi kesehatan dan lembaga  kesehtan suka rela non pemerintah dan swasta yang sangta berkontribusi banyak.jumlah pelayan kesehatan swasta jauh lebih sedikit dan berbentuk kepemilikan pribadi. Tanggung jawab direktorat kesehatn sangat besar dalam melakukan pencegahan dan mengidentifikasi kesehatan publik. Di tinkat nasional, terdapat medical service yang bertanggung jawab terhadap administrasi para professional kesehtan seperti dokter, dokter gigi dan perencaan rumah sakit, pengawasan obat-obatan.

2.7  Sumber Daya Produksi Kesehatan

Sumber daya kesehatan di Norwegia relatif melimpah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Dari factor sumber daya manusia, Norwgia memiliki suplay dokter umum dan sisanya adalah spesialis. Begitupun dengan jumlah dokter gigi dan bidan yang memiliki rasio diatas rata-rata Negara lain. Dari sumber daya fasilitas, rumah sakit disediakan oleh pemerintah provinsi dengan kemampuan menyediakan tempat tidur sebesar 90%. Dari factor sumber komuditas, yaitu obat-obatan, ternyata norwegia tidak setangguh Amerika dalam menyediakan obat-obatan. Perusahaan dalam negri hanya mampu memenuhi obat-obatan sebesar 25%, sedangkan sisanya diproleh dari impor. Norwegia pun termasuk Negara yang sangat ketat dalam regulasi obat-obatan baik local mauun impor, buktinya dari 2.000 obat-obatan yang termasuk dosis dokter ternyata hanya 1.100 yang bias lolos registrasi.

2.8  Sumber Pembiayaan

Ditinjau dari sumber daya produksi dan tenaga kesehatannya, Norwegia termasuk Negara yang memiliki surplus tinggi. Era 1990 negara ini mampu mengalokasikan 6,8% dari GPD untuk system kesehatan dan hal ini terus meningkat hingga tahun 2003 yang mencapai 10,3%bdari GDP.layanan kesehatan umum didanai oleh pajak dan dirancang untuk dapat di askes oleh semua penduduk tampa memandang status social. Tanggung jawab tentang kindisi pelayanan disentralisasikan ketingtat kota dan regional.

2.9  Manajemen

Dari segi manajemen terdapat lima lembaga yang bertanggung jawab terhadap system kesehatan, yaitu sebagai berikut:

  1. Departemen Kesehatan, bertanggung jawab terhadap perencanaan, pencegahan, dan rehabilitas kesehatan.
  2. Departemen rumah sakit, bertanggung jawab terhadap perencanaan rumah sakit, pengobatan dan perawatan gigi.
  3. Departemen pharmaceutical, bertanggung jawab terhadap penyediaan obat-obatan.
  4. Departemen kesehatan lingkungan, bertanggung jawab terhadap penanganan epidemiologi dan statistic, jasa pencegahan bencana linkungan, dan menjamin lingkungan yang higienis dan makanan bernutrisi.
  5. Departemen administrasi, bertanggung jawab terhadap financial.

2.10          Pelayanan Jasa Kesehatan

Antrean di rumah sakit dan jumlah lanjut usia merupakan tantanngan terbesar bagi kebijakan kesehatan, Norwegia. Persentase para lanjut usia meningkat tajam pada tahun 190 sehingga menciptakan kebutuhan akan layanan pengobatan,rehabilitasi, dan perawatan yang lebih khusus.

Fasilitas rumah sakit umum yang pertama di Norwegia didirikan sekitar tahun 1700-an. Akhir tahun 1800-an munculnya rumah sakit dengan ruang perawatan khusus. Ketika mesin x-ray dan peralatan anastesi modern mulai bermunculan setelah tahun 1900, rumah sakit  modern memproleh momentum baru. Sejak tahun 1945, pengembangan layanan kesehatan umum telah mengikuti tren internasional dalam hal penggunaan antibiotic dan jenis pengobatan lainnya serta perbaikan kesinambungan dibidang teknologi medis.

PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Norwegia adalah salah satu negara yang masih percaya pada mekanisme negara kesejahteraan (welfare state). Dengan sistem ini maka dimaksudkan bahwa negara memiliki tujuan untuk memastikan bahwa seluruh warga negara mendapatkan keamanan ekonomi dan keamanan sosial (social and economic safety). Negara juga menjamin bahwa semua warga negara berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan dan pelayanan kesehatan, tanpa memperhatikan kelas sosial atau pendapatan ekonominya (Ellingson, Mac Donald-2000).

Di sektor kesehatan negara berperan dominan, meskipun pelayanan privat juga mulai bermunculan.Rata-rata pengeluaran negara per penduduk dalam sektor kesehatan di Norwegia adalah yang terbesar di Eropa. Norwegia menduduki peringkat teratas kondisi kehidupan nasional menurut UNDP Human Development Index Rata-rata usia kehidupan di Norwegia adalah 78,7 tahun.

Pelayanan di rumah sakit dijalankan secara gratis. Obat tetap menjadi tanggung jawab pasien. “Resep biru“,maka biaya obat yang mahal sebagian besar akan ditanggung negara.

3.2  Saran

Dengan diterangkannya model sistem kesehatan di berbagai negara, salah satunya di negara norwegia, maka diharapkan Indonesia dapat mengacu untuk lebih mengembangkan sistem kesehatan yang lebih baik lagi

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito, Wiku. 2007. Sistem Kesehatan. PT RAJAGRAFINDO PERSADA ; Jakarta

Sistem Kesehatan Umum dalam http://www.norwegia.or.id/ facts/living/healthsystem/ public.htm

Welfare Sistem dalam http://www.ireyogya.org/ire.php?about=f21_gagas.htm

Kesehatan dalam http://www.norwegia.or.id/facts/living/health/health.htm

Keehatan Sebagai Kebijakan Di Luar Negri dalam http://www.norwegia.or.id/ policy/Health+speech+amb.htm

About Nilna R.Isna

Aku menjadi aku sebagaimana aku adalah aku.

Posted on September 14, 2012, in Performance Sistem Kesehatan, Semester 5. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Makasih Banyak Uni ^^

    saya mhs FKM Unair, salam kenal🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: