BUDGET CONCEPT

Tugas Asuransi Kesehatan / JPKM

BUDGET CONCEPT

Dosen Pembimbing : Dr. Rima Semiarty, MARS

Penulis :

Nilna Rahmi Isna                  07122009

Khairunissa Ifmi                   07122015

Ayulia Fardila Sari ZA         07122030

Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat

Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

2009

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembiayaan kesehatan semakin meningkat dari waktu ke waktu dan dirasakan berat baik oleh pemerintah, dunia usaha terlebih-lebih masyarakat pada umumnya. Untuk itu berbagai Negara memilih model sistem pembiayaan kesehatan bagi rakyatnya, yang diberlakukan secara nasional.

Di Indonesia dikembangkan asuransi kesehatan sosial (Jaminan Kesehatan/JK) di mana diatur dalam UU No 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial (SJSN) yang merupakan salah satu program bersama program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kematian (JKM) dan Jaminan Pensiun (JP). Program JK diselenggarakan secara nasional, berdasar prinsip asuransi sosial dan ekuitas. Tujuannya adalah untuk memberikan manfaat pemeliharaan kesehatran dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.

Prinsip asuransi sosial program JK dalam SJSN meliputi kepesertaan yang bersifat wajib dan non diskriminatif bagi kelompok formal, iuran berdasar persentase pendapatan menjadi beban bersama antara pemberi dan penerima kerja sampai batas tertentu, sehingga ada kegotong-royongan antara yang kaya-miskin, resiko sakit tinggi-rendah, tua-muda dengan manfaat pelayanan medik yang sama (prinsip ekuitas), dan pelayanan dapat diakses secara nasional (portabilitas), bersifat komprehensif, dengan manfaat pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, termasuk obat dan bahan medis habis pakai. Pengelolaannya dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, nirlaba, transparansi dan akuntabilitas yang tinggi. Dana program merupakan dana amanat yang digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta.

Kekhususan program JK dalam SJSN adalah bahwa Badan Penyelenggara harus mengembangkan sistem pelayanan kesehatan, sistem kendali mutu pelayanan dan sistem pembayaran pelayanan kesehatan untuk meningkatkan efisiensi jaminan kesehatan. Penyelenggaraan jaminan kesehatan menerapkan prinsip-prinsip managed healthcare concept, misalnya penerapan konsep dokter keluarga, konsep rujukan, konsep wilayah serta pembayaran prospektif (Prospective Payment System) misalnya kapitasi, sistem budget,  tarif paket, dan DRG’s (Diagnosis Related Groups). Pelayanan obat diberikan sesuai dengan daftar dan harga tertinggi obat-obatan, serta bahan medis habis pakai yang ditetapkan.

Dalam makalah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai  Budget Concept atau Sistem Budget.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan pembuatan makalah ini antara lain :

  1. Memberikan pemahaman tentang gambaran umum asuransi
  2. Memberikan pemahaman tentang Prospective Payment System
  3. Memberikan pemahaman tentang pengertian, kelebihan,dan kelemahan Budget Concept
  4. Menunjukkan penerapan Budget Concept dalam asuransi kesehatan.

BAB II

PEMBAHASAN

 2.1 Asuransi Kesehatan

Asuransi adalah suatu perjanjian dimana si penanggung dengan menerima suatu premi meningkatkan dirinya untuk memberikan ganti rugi kepada tertanggung yang mungkin diderita karena terjadinya suatu peristiwa yang mengandung ketidakpastian dan yang akan mengakibatkan kehilangan, kerugian atau kehilangan suatu keuntungan.

Asuransi pada dasarnya juga adalah suatu mekanisme untuk mengalihkan resiko (ekonomi) perorangan menjadi kelompok. Datangnya suatu resiko termasuk resiko sakit sering tidak dapat diperhitungkan, sehingga apabila resiko itu ditanggung masing-masing orang  yang terkena resiko, beban resiko (ekonomi) akan terasa berat. Tetapi bila resiko itu perorangan itu dialihkan menjadi resiko kelompok (risk sharing) maka resiko itu dapat diperhitungkan.

Asuransi kesehatan adalah suatu program jaminan pemeliharaan kesehatan kepada masyarakat yang biayanya dipikul bersama oleh masyarakat melalui sistem kontribusi yang dilaksanakan secara pra upaya.

Asuransi bertujuan antara lain : 1) Mewujudkan ketentraman jasmani dan rohani, 2)Mendapatkan jaminan dalam mengurangi ketidakpastian dimasa yang akan datang, 3) Memperoleh jaminan sosial dan ekonomi dalam rangka mewujudkan kesejahteraan.

 

2.2 Budget Concept

Budget Concept merupakan suatu cara pembayaran kepada PPK berdasarkan anggaran atau jumlah biaya yang tetap yang telah disepakati bersama antara PPK dengan badan pengelola asuransi. Dasar perhitungan biaya dapat melalui mekanisme penyusunan anggaran biaya yang secara riil diperlukan atau berdasarkan jumlah peserta (kapitasi).

Sistem pembayaran ini dilakukan di muka dengan besaran uang sesuai dengan yang diajukan oleh penyelenggara pelayanan kesehatan. Dalam hal ini, keberhasilan penyelenggaraan asuransi kesehatan sangat tergantung dari kemampuan perencanaan penyelengara pelayanan kesehatan serta kejelian dari perhitungan sendiri (owner estimate) dari badan penyelenggara sehingga kedua belah pihak sama-sama diuntungkan.

Dalam sistem anggaran global (= total), rumah sakit menerima, biasanya di muka, alokasi dana yang harus mampu memenuhi semua peengeluaran-pengeluaran yang dihadapinya untuk suatu periode waktu tertentu (misalnya satu tahun sekali). Biaya untuk jasa dokter kadang-kadang tidak termasuk dalam anggaran global tersebut. Berdasarkan anggaran itu, lalu rumah sakit membuat rencana keuangannya yang dapat digunakan oleh manajemen untuk mengoperasikan rumah sakit. Tentu saja ada kemungkinan terdapat dana cadangan yang dapat diajukan  rumah sakit dalam perjalanan waktu setahun itu untuk menghadapi peristiwa-peristiwa tak terduga, misalnya epidemic. Sistem penganggaran global ini diterapkan oleh NHS (National Health Service) di Inggris, serta sistem pelayanan kesehatan di Kanada.

Keberhasilan pengendalian biaya dalam sistem anggaran global ini tergantung pada sejauh mana rumah sakit memberikan toleransi kepada pengeluaran yang melebihi batas. Apabila rumah sakit mengeluarkan uang secara berlebihan (over spending), maka ia akan harus menanggung akibatnya. Sebaliknya, apabila terdapat pengeluaran yang lebih kecil (underspending) daripada anggaran untuk suatu periode waktu tertentu, maka sisanya harus dikembalikan kepada penyandang dana. Tidak mengherankan bila keadaan yang terakhir jarang terjadi.

Keberhasilan sistem pembayaran anggaran global tersebut bergantung pada sejumlah faktor. Pertama, mekanisme atau formulasi dalam menentukan besarnya anggaran. Apabila dalam menentukan besarnya anggaran itu dapat dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan efisiensi, maka sistem pembayaran tersebut akan menguntungkan. Namun, upaya meningkatkan efisiensi ini tidak semudah menteorikannnya. Salah satu cara adalah menetapkan sejumlah “indikator kinerja” rumah sakit untuk membantu derajat efisiensi.

Biasanya indikator kinerja yang digunakan adalah lama tinggal (length of stay) dan biaya per kasus (cost per case). Dengan kata lain, besarnya anggaran dihitung berdasarkan lama tinggal da biaya per kasus. Dalam praktek, biasanya yang dimaksud dengan biaya per kasus adalah biaya rata-rata (= per unit) per kasus. Indikator ini memiliki kelemahan. Apabila rumah sakit maupun penyandang dana terpaku pada indikator kinerja  tersebut dan mengesampingkan ukuran yang lebih penting, yaitu status kesehatan pasien, maka kinerja rumah sakit yang dikatakan “baik” adalah yang  memenuhi kriteria biaya rendah per kasus meskipun kualitas pelayanan yang diberikan rendah. Sistem ini mengandung bahaya dorongan efisiensi semu apabila  ukuran-ukuran kinerja tidak dirancang dengan saksama.

Di samping itu, perlu dicatat apabila pembiayaan rumah sakit hanya didasarkan pada prinsip-prinsip dan pertimbangan anggaran internal rumah sakit, tanpa menghiraukan pembiayaan pelayanan-pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial lainnya (misalnya pelayanan keperawatan bagi komunitas dan pelayanan bagi usia lanjut), maka terdapat bahaya di mana perbaikan efisiensi di sector rumah sakit mengakibatkan peningkatan inefisiensi di sektor lain.

2.3 Pelaksanaan Budget Concept

Askes telah menetapkan sistem ini di Medan pada dua buah rumah sakit swasta. Pemerintah Kota Medan bermaksud mewujudkan apa yang diamanatkan SJSN. kebijakan tersebut untuk meningkatkan universal coverage, khususnya bagi masyarakat pekerja informal di sektor perdagangan, jasa, industri dan lainnya yang jumlahnya diperkirakan sebesar 709.669 jiwa (35,36%), dimana selama ini tidak tercover asuransi kesehatan. Kelompok masyarakat ini belum memiliki perlindungan kesehatan dalam bentuk apapun, bagaikan kelompok masyarakat yang terlupakan karena dianggap mampu menangani masalah kesehatannya, padahal sebenarnya cukup rentan bila menderita sakit. Berdasarkan tingkat pendapatannya, kelompok masyarakat ini dapat dibagi pada beberapa tingkatan, dari tingkat pendapatan rendah sampai dengan tinggi, namun secara umum kelompok masyarakat ini bukan termasuk kelompok masyarakat tidak mampu/miskin.

Menarik pengalaman dari banyak Negara, mekanisme pembiayaan kesehatan yang dinilai lebih baik untuk diterapkan pada program “Askes Medan Sehat” adalah menerapkan sistem managed care dengan cara penghimpunan iuran di muka (prepaid) dari konsumen kepada penyelenggara pemeliharaan kesehatan, dikaitkan dengan pembayaran pra-upaya (prospective payment) dari penyelenggara kepada pemberi pelayanan kesehatan. Mekanisme pemeliharaan kesehatan yang perhitungan biayanya berbasiskan telaah utilisasi pelayanan tersebut, mendorong kendali biaya dan kendali mutu sekaligus, sehingga lebih efisien dan efektif. Dalam dunia jaminan kesehatan, mekanisme kendali biaya dan kendali mutu ini dinamakan “managed care”, dan di Indonesia dinamakan metode/cara atau mekanisme JPKM (Jaminan pemeliharaan Kesehatan Masyarakat).

Di Belanda, diberlakukan pada suatu Rumah Sakit yang digunakan bersama oleh beberapa perusahaan asuransi kesehatan untuk perawatan pesertanya. Rumah sakit akan memperoleh insentif financial kalau budget yang disepakati terdapat surplus. Sebaliknya, apabila terjadi defisit, akan diperhitungkan dengan budget tahun yang akan datang.

Dengan keadaan seperti itu rumah sakit akan memperhitungkan realisasi anggarannya. Di negara Belanda, ketika budget concept ini dilaksanakan, sejumlah 8.000 tempat tidur ditutup.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Asuransi kesehatan adalah suatu program jaminan pemeliharaan kesehatan kepada masyarakat yang biayanya dipikul bersama oleh masyarakat melalui sistem kontribusi yang dilaksanakan secara pra upaya.

Budget Concept merupakan suatu cara pembayaran kepada PPK berdasarkan anggaran atau jumlah biaya yang tetap yang telah disepakati bersama antara PPK dengan badan pengelola asuransi. Dasar perhitungan biaya dapat melalui mekanisme penyusunan anggaran biaya yang secara riil diperlukan atau berdasarkan jumlah peserta (kapitasi).

Biasanya indikator kinerja yang digunakan adalah lama tinggal (length of stay) dan biaya per kasus (cost per case). Dengan kata lain, besarnya anggaran dihitung berdasarkan lama tinggal dan biaya per kasus.

Askes telah menetapkan sistem ini di Medan pada dua buah rumah sakit swasta. Ternyata dorongan kearah efisiensi juga cukup besar disamping penyederhanaan penyelenggaraan administrasi.

3.2 Saran

Berdasarkan hasil makalah tersebut, maka dapat disarankan, budget concept dapat diberlakukan pada suatu Rumah Sakit yang digunakan bersama oleh beberapa perusahaan asuransi kesehatan untuk perawatan pesertanya. Rumah sakit akan memperoleh insentif financial kalau budget yang disepakati terdapat surplus. Sebaliknya, apabila terjadi defisit, akan diperhitungkan dengan budget tahun yang akan datang. Dengan keadaan seperti itu rumah sakit akan memperhitungkan realisasi anggarannya.

 

 Daftar Pustaka

 Murti, Bhisma. 2000. Dasar-dasar Asuransi Kesehatan. Penerbit Kanisius.

 “Konsep Iur Biaya dalam Asuransi Kesehatan” dalam http://www.scr-ibd.com/doc/10910649/Nambah-Ilmu-Tentang-Konsep-Iur-Biaya-Dalam-Asuransi-Kesehatan. 29 Oktober 2009. 22:00

 “Managed Care” dalam http://books.google.co.id/books?id . 31 Oktober 2009. 20:08

 “Konsep Managed Care dalam Askes Medan Sehat” dalam http://warkesedisubroto.blogspot.com/. 30 Oktober 2009. 22:09

 “Pembiayaan Kesehatan Melalui Asuransi Kesehatan” dalam http://www.jpkm-online.net/. 29 Oktober 2009. 20:30

About Nilna R.Isna

Aku menjadi aku sebagaimana aku adalah aku.

Posted on September 11, 2012, in Asuransi / JPKM, Semester 5. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: